08 September 2014

Lambang Kabupaten Grobogan

MAKNA LAMBANG :
Perisai dengan batas tali bersimpul delapan dengan tulisan "Kabupaten Grobogan" bermakna bahwa Wilayah Kabupaten Grobogan dikelilingi oleh 8 Kabupaten tetangga.

Bintang warna kuning emas,dan bergaris pinggir putih. Artinya Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini mencerminkan bahwa seluruh rakyat dan penduduk Kabupaten Grobogan pada umumnya meyakini dan berbakti terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan landasan mental dan iktikad yang suci murni. Sudut 5 (lima) pada bintang artinya : Pancasila. Masyarakat Kabupaten Grobogan khususnya dan Indonesia pada umumnya bertekad bulat dan yakin dengan sepenuh hati bahwa Pancasila adalah merupakan sumber hukum untuk mengurus dan mengatur daerah serta merupakan dasar falsafah dari segala tindak tanduk dan gaya Pembina Daerah.

Warna dasar kuning, melambangkan kemurnian dan keluhuran budaya.

Alas berwarna biru tua di bagian bawah. Melambangkan kesetiaan, artinya rakyat Grobogan selalu setia kepada bumi sebagai tempat berpijak, yaitu kesetiaan terhadap Daerah dan Negara Republik Indonesia.

Tiga gelombang aliran warna biru muda. Melambangkan 3 sungai utama, yaitu Sungai Tuntang, Serang dan Lusiyang berguna bagi rakyat Kabupaten Grobogan.

Kobaran api. Melambangkan sumber api alam di Kabupaten Grobogan (Mrapen), sebagai simbol kehidupan dengan semangat yang menyala-nyala dan tidak pernah padam.

Warna hijau yang membentuk simbol pohon dan daun jati berwarna kuning. Melambangkan hutan yang membentang di Kabupaten Grobogan sebagian besar merupakan hutan jati yang diharapkan mampu memberikan kemakmuran.

Gambar dua gunung berwarna biru. Melambangkan kondisi geografis Kabupaten Grobogan yang dibatasi oleh 2 (dua) pegunungan yaitu Pegunungan Kendeng dan Pegunungan Kapur Utara.

Gambar penampang melintang belahan bambu yang dijajarkan (Klakah). "Klakah" adalah tempat pembuatan garam darat yang khas di Kabupaten Grobogan sebagai lambang kerajinan rakyat di bidang industri kecil.

Gambar bambu runcing. Melambangkan semangat seluruh rakyat dalam memperjuangkan, mempertahankan, membela dan mengisi kemerdekaan.

Gambar bulir padi dan jagung. Melambangkan hasil utama pertanian di Kabupaten Grobogan.

Gambar Simbol Cahaya Listrik / Halilintar (Petir). Melambangkan kekuatan alam yang harus dapat dikuasai oleh rakyat Kabupaten Grobogan. Menggambarkan karakter masyarakat Kabupaten Grobogan dalam kemampuannya mengendalikan hawa nafsu. Halilintar (petir) ini diambil dari filosofi Legenda Ki Ageng Selo.

Serangkaian 17 gerigi daun jati, 8 nyala kobaran api, 4 kelakah bambu, 5 ruas bambu runcing dan disinari cahaya halilintar.Melambangkan bahwa inti perjuangan masyarakat dan Bangsa Indonesia yang ada di Kabupaten Grobogan dilandaskan pada semangat proklamasi 17 Agustus 1945.



Lambang Kabupaten Demak

ARTI LAMBANG :
Bentuk Lambang daerah Kabupaten Demak berupa perisai yang berbentuk dasar segitiga lengkung melambangkan pertahanan dan keamanan lahir dan batin.

MAKNA LAMBANG :
Sebagaimana tercantum dalam Peraturan Daerah Kabupaten Demak tanggal 17 Agustus 1972 tentang Lambang Daerah Kabupaten Demak yang mengartikan makna motif-motif di dalam lambang dan pengapitnya sebagai berikut :

Lukisan bintang persegilima warna kuning emas melambangkan hasrat masyarakat Demak untuk mengamalkan Pancasila dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

Dasar biru dan kuning menunjukkan geografis daerah Kabupaten Demak adalah daerah pantai dan rawa, yang mana setiap tahun waktu musim penghujan terlalu banyak air dan musim kemarau sangat kekurangan air;

Masjid menunjukkan arti kebesaran Masjid Agung Demak sebagai hasil kebudayaan khas Demak; Ruang masjid berjumlah 9 (sembilan) melambangkan tempat musyawarah Walisongo dan beringin melambangkan keadilan dan kebenaran serta penyayang;

Tombak berdiri tegak lurus melintas ke atas di tengah ruang masjid yang mengandung arti kepahlawanan revolusi 1945 melawan penjajahan;

Empat garis bergelombang laut berwarna biru menunjukkan bahwa Demak memiliki potensi hasil laut; Perahu layar mengandung arti kepahlawanan armada pimpinan Adi Pati Unus;

Padi dan kapas menunjukkan arti potensi bahan baku sandang dan pangan; Jumlah butir padi 17, kapas 8, gelombang laut 4 di setiap 5 garis putih, hal tersebut menunjukkan tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945



Lambang Kabupaten Cilacap

MAKNA BENTUK :
Bintang Segi Lima
Melambangkan keluhuran cita-cita masyarakat Daerah yang berkepribadian Pancasila.

Tugu Pahlawan dengan lidah api diatas gelombang Laut Selatan; Tugu Pahlawan melambangkan perjuangan heroik masyarakat Daerah dimasa Revolusi 1945. Lidah api menunjukkan hitungan 5, berarti perjuangan yang berdasarkan Pancasila. Gelombang Laut Selatan dengan lekuk gelombang berjumlah 4 dihubungkan dengan lidah api (5) berarti bahwa perjuangan yang berkobar-kobar sejak Revolusi 45 berdasarkan UUD 45 dan jiwa juang 45.

Kembang Wijayakusuma
Merupakan lambang Wahyu Negara pada saat masih berbentuk kerajaan. Wijayakusuma menjadi nama pengenal khas dan merupakan lambang hidup daerah. Kembang ini hanya ada dan tumbuh di Cilacap saja (bunga gaib).

Padi dan Kapas;
Melambangkan keluhuran cita-cita masyarakat Daerah mewujudkan masyarakat adil dan makmur dalam mengemban Amanat Penderitaan Rakyat. Padi dan Kapas bermakna kegiatan masyarakat di bidang pangan dan sandang. Jumlah butir padi 17 dan kapas 8, dihubungkan dengan Kembang Wijayakusuma yang berkelopak 4 dan berdaun bunga 5, menunjukkan betapa keramatnya Proklamasi Tujuhbelas Delapan Empatlima.

Ikan Hiu;
Ikan Hiu melambangkan Cilacap berada di daerah pantai laut selatan, penghasil ikan, dan sebagian dari masyarakatnya adalah nelayan.

MAKNA WARNA :
  • Merah Hati : keberanian, keuletan, kewaspadaan serta melambangkan perjuangan yang gagah berani
  • Kuning Emas : keluhuran didalam mengemban tugas
  • Putih : kesucian jiwa
  • Hitam : ketenangan dan ketabahan
  • Hijau : kesuburan dan kemakmuran
  • Biru Laut / Biru Tua  : Cilacap terletak di pantai selatan, Samudera Indonesia

Lambang Kabupaten Brebes

Makna Lambang :
Daun lambang daerah yang berbentuk Dasar Segi Lima. Melambangkan Dasar Falsafah Negara yaitu Pancasila, sedangkan Warna Biru menunjukan  adanya Daerah Pantai dan Pegunungan. Puncak Segi Lima menunjukan puncak gunung  sedangkan lengkung-lengkungnya menunjukan gelombang lautan.

Bintang bersudut lima berwarna kuning emas melambangkan bahwa masyarakat Brebes  adalah makluk yang berKetuhanan Yang Maha Esa.

Kapas dan Padi Melambangkan Sandang Pangan

Bentuk Bulat Telur serta Gambar Bawang Merah : Melambangkan bahwa Telur Asin serta gambar Bawang Merah merupakan hasil spesifik  daerah.

Lima Akar Melambangkan bahwa rakyat dan Pemerintahan Daerah adalah Pelaksana Demokrasi  Pancasila.

Perpaduan antara Tujuh Belas Butir Padi, Delapan Buah Kapas Empat Puluh Lima Mata  Rantai Melambangkan titi mangsa Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus  1945.

Perpaduan Tiga Umbi Bawang Merah dan Lima Akar yang berwarna hitam, puncak  bawang yang merupakan nyala api yang tak kunjung padam berjumlah lima. Melambangkan kehidupan Demokrasi (Legislatif, Eksekutif, Yudikatif) yang harus  dilaksanakan secara dinamis dalam bentuk Demokrasi Pancasila.

Sebuah Pita Putih bergaris tepi Hitam yang menyambungkan padi dan kapas  ditengahnya bertuliskan : Mangesti Wicara Ebahing Praja dengan warna hitam yang  menunjukan bahwa Rakyat Brebes bertekad untuk membangun daerahnya guna  mewujudkan kesejahteraan bersama dalam rangka membagun Bangsa dan Negara  Kesatuan republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.


Makna Warna
  • Putih : Kejujuran/kesucian 
  • Kuning Emas : Kesatuan/keagungan/kemuliaan/kebijaksanaan
  • Merah : Keberanian
  • Hijau : Kemakmuran/kerukunan
  • Hitam : Keteguhan/keabadian
  • Biru : Kedamaian/kesetiaan


Sesanti
  • Sesanti Daerah adalah "Mangesthi Wicara Ebahing Praja"
  • Arti Sesanti Daerah kata demi kata adalah :
  • Mangesthi : Menuju, menginginkan, menghendaki, mengusahakan, bertekad.
  • Wicara : Bicara, cerita, riwayat, pembicaraan, rembug, musyawarah, mufakat,  kebulatan tekad.
  • Ebah(ing) : Gerak, kegiatan, bekerja, membangun
  • Praja : Pemerintahan, Negara, kegiatan – kegiatan kenegaraan.

Arti keseluruhan sesanti daerah adalah bahwa rakyat bersama Pemerintah Daerah Brebes bertekad (Mangesthi) untuk membangun daerahnya guna mewujudkan kesejahteraan bersama dalam rangka membangun (Ebahing) Negara (Praja) dan  Bangsa.

Arti Surya Sengkala Mangesthi Wicara Ebahing Praja
- Mangesthi berwatak : 8
- Wicara berwatak : 7
- Ebah (ing) berwatak : 6
- Praja berwatak : 1
Dengan demikian Magesthi Wicara Ebahing Praja mengandung makna tahun  matahari/masehi  :1678 tahun ini adalah berdirinya Pemerintahan Brebes dengan titi  mangsa 18 Januari 1678  yang ditandai dengan dilantiknya Bupati Brebes yang  pertama, yaitu Raden Arya Suralaya.



Lambang Kabupaten Boyolali

PENJELASAN LAMBANG :

WARNA:
Lambang Daerah Kabupaten Boyolali memakai lima warna yakni: hijau, putih, kuning, hitam dan merah. Paduan warna-warna itu berarti: Bahwa kemakmuran, keadilan, kewibawaan yang diridloi Tuhan Yang Maha Esa adalah selalu diperjuangkan oleh rakyat Boyolali dengan penuh keberanian, kesucian dan cinta kasih, menuju kebahagiaan yang abadi.

GAMBAR:
Perisai berbentuk bulat telur tegak dalam kebudayaan asli Indonesia melambangkan jiwa kesatria atau pahlawan untuk mempertahankan diri dalam perjuangan dan memberi perlindungan.

Mata rantai yang berkait-kaitan satu sama lain merupakan lingkaran yang tidak terputus, melambangkan silsilah keturunan manusia yang turun-temurun. Sedang jumlah mata rantai 45 melambangkan persatuan yang berlandaskan jiwa dan semangat UUD Tahun 1945.

Bintang bersudut lima berwarna kuning emas disebut Nur Illahi melambangkan kepercayaan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.

Pada bidang atas dilukiskan Maha Mer berujud gunung kembar Meru-Api (Merapi) dan Meru-Babu (Merbabu) adalah menunjukkan letak geografis Daerah Kabupaten Boyolali dan melambangkan keagungan serta kebesaran jiwa warga daerahnya.

Daun tembakau dari jenis yang terkenal, setongkol jagung dan kepala lembu perah, merupakan hasil utama pertanian dan peternakan di daerah Kabupaten Boyolali, serta mewujudkan surya sangkala terbentuknya Kabupaten Boyolali tahun 1847 yang berbunyi “Kaswareng weh madya tunggal”.

Bambu runcing berdiri tegak dengan pangkasan ke depan dan beruas lima, melambangkan senjata utama dan sifat keberanian rakyat dalam kebenaran dengan secara terbuka serta tulus ikhlas berdasarkan Pancasila.

Pengapit perisai menggambarkan dua hajat hidup manusia yang disebut dalam himne ialah sandang dan pangan yang dilukiskan dalam bentuk 17 buah kapas, 8 helai daun kapas, 19 butir padi 4batang jerami dan 5 helai daun padi yang keseluruhannya menyatakan hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sasanti Kata ditulis dengan huruf latin berwarna merah diatas pita putih dalam bahasa Jawa yang bernunyi “BOYA-LALI”. Boya berarti tidak, lali berarti lupa.

Sesanti kata Boyolali mengandung maksud bahwa para pelaku pemerintahan dalam menjalankan tugas dan wewenangnya selalu waspada, demikian juga rakyat selalu patuh, taat dan penuh kewaspadaan dalam melaksanakan kewajibannya. Sedangkan Boyolali adalah nama daerah kabupaten Boyolali.

Lambang dilukiskan di atas daun Lambang yang berbentuk perisai bersudut lima berwarna coklat muda kekuning-kuningan berpelisir merah-putih dengan arti:
  • Daun Lambang bersudut lima berbentuk paku adalah stylering dari lingga yang melambangkan kekuasaan yang teguh dan kehidupan manusia.
  • Warna coklat muda adalah warna batugilang (batu bercahaya), ialah batu tempat duduk penguasa Negara pada waktu memberi keadilan dan mengatur kemakmuran bagi rakyat.
  • Pelisir merah dan putih melambangkan keberanian dan kesucian.